PENGOLAHAN HIDUP

November 27, 2011

Pengantar

Untuk dapat memberikan layanan KP maka syarat utamanya adalah konselor harus menjadi pribadi yang sehat/utuh/wholeness. Oleh karena itu koselor perlu mengolah pengalaman hidupnya di masa lalu, lebih-lebih jika masih memendam pengalaman traumatis. Caranya dengan merenungkan: apakah sekarang ini dirinya sudah merasa sehat/damai/bahagia karena tidak lagi dibayang-bayangi pengalaman-pengalaman “kehilangan”, “tersesat”, “terluka”, “sakit” akibat peristiwa pahit di masa lalu? Oleh karena itu ia perlu mengolah luka-luka hidupnya dari perspektif psikologis maupun teologis.

Pengolahan diri dari segi psikologis
a. Coba renungkan pengalaman hidupmu dari 0 tahun sampai sekarang ini, lalu ceriterakan: apakah ada pengalaman-pengalaman pahit di masa lalu yang membuat hidupmu di masa kini masih didominasi oleh rasa “sakit”, “terluka”, “tersesat”, “kehilangan”?
b. Jika disoroti dari teori Maslow, pengalaman pahitmu di masa lalu itu menunjukkan jika kamu memiliki hambatan pada kebutuhan dasar yang mana? Jelaskan
c. Coba renungkan baik-baik: apakah pengalaman pahit itu menyisakan/membekaskan kecenderungan negative dengan adanya: rasa ….., sebab……, akibat……
d. Sadarkah dirimu bahwa semua rasa, sebab dan akibatnya itu jika tidak diolah dan disembuhkan dapat menghambatmu menjadi pribadi yang sehat? (Ingat pepatah: “hurting people, hurt people” atau “orang yang terluka, cenderung melukai orang lain”).

Belajar dari Joyce Meyer

Dalam buku Beauty for Ashes, Joyce Meyer (2003:13-24) menceriterakan pengalaman pahitnya di masa lalu yang penuh dengan Fear! Fear! Fear!. Jadi jika dilihat dari teori Maslow ia adalah contoh pribadi yang tidak terpenuhi kebutuhan dasar pertama, kedua dan ketiga.
Masa kecil dan remajanya di California dihantui rasa takut sebab ia mengalami sexual and emosional abuse dari ayahnya sendiri. Ibunya suatu hari pernah memergoki perilaku bejat ayahnya itu saat meihat suaminya menyetubuhi Jocye anak kandung mereka, tetapi ia hanya bungkam dan membiarkan kejadian itu tetap berlangsung bukannya menolong Joyce. Hal ini membuat Joyce memendam rasa benci yang mendalam juga terhadap ibunya itu.
Pada usia 18 tahun, Joyce kabur dari rumahnya, bertemu dengan seorang laki-laki yang bersedia menikahinya. Akan tetapi ternyata suaminya itu seorang penipu, pencuri bahkan manipulator ulung. Selama 5 tahun ia hidup menderita dengan suami semacam itu. Saat mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, suaminya itu pergi meninggalkannya karena menikahi wanita lain yang rumahnya hanya berselang dua blok dari tempat tinggalnya. Dan yang lebih menyakitkan lagi, suaminya pergi dengan menyebarkan fitnah jika anak yang dilahirkan Joyce bukanlah berasal dari benihnya.
Dengan kondisi kesehatan fisik yang menurun drastic, beban psikologis, tak memiliki uang, tak punya jaminan kesehatan dan terusir dari tempat tinggalnya; akhirnya Joyce membawa anaknya untuk kembali pulang ke rumah orang tuanya di musim panas 1966. Namun ternyata rumah kembali bukan tempat yang nyaman bagi hidupnya. Ia harus menghadapi perilaku ibunya yang mengalami sakit mental: kerap berperilaku kasar/keras, membawa pisau di dalam tasnya kemanapun pergi, selalu mengancam pekerja di rumah yang melakukan kesalahan kecil, berteriak-teriak, meracau, mengoceh tentang apa saja ….. Bahkan Joyce pernah dipukuli berkali-kali dengan sapu karena lalai mengepel lantai kamar mandi agar kering kembali begitu selesai ia gunakan. Hidup di rumah semacam itu dialaminya seperti di dalam neraka saja (my life was a living hell!). Namun dalam kepedihannya, ia selalu berdoa dalam hati , “Dear God, please let me be happy… Some day, give me someone who really love me dan make it someone who will take me to the church”.
Doanya terjawab, sebab pada tanggal 7 Januari 1967, seorang laki-laki (tetangga di rumah orangtuanya) bernama Dave Meyer meminang dan menikahinya. Dave adalah laki-laki yang baik, bertanggungjawab dan sangat religius, Ia selalu mengajaknya untuk pergi beribadat di Gereja. Ia juga bersedia menerima masa lalu Joyce yang gelap dan selalu meyakinkan Joyce jika ia tetap layak dicintai dan mencintai. Berkat pendampingan Dave yang setia akhirnya Joyce menjadi dekat dengan Tuhan, dapat mengolah pengalaman pahitnya, mengampuni kesalahan orang-orang di masa lalu (ayah, ibu dan suami pertamanya) dan hidupnya menjadi “berkelimpahan”: ia menjadi pengkhotbah ulung dan penulis ternama. Buku-bukunya berisi motivasi tentang pentingnya mengolah pengalaman di masa lalu supaya dapat mengalami pembebasan dan kebahagiaan.
Dalam bagan berikut, ia menggambarkan perjalanan hidupnya di masa lalu saat dikuasai oleh pengalaman ketakutan. Secara psikologis hatinya diliputi perasaan-perasaan negative seperti merasa ditolak, rasa kecil, rasa salah, tak berharga, tak berdaya, dll….

Pengolahan hidup secara teologis

Layanan KP hendak menyadarkan kita bahwa penderitaan seberat apa pun jika ditanggung bersama Allah, pasti tak akan menghancurkan hidupnya. Mengapa? Karena daya daya Roh Kudus/Roh Kristus? Roh Allah akan menguatkannya. Buktinya? Ingatlah perumpamaan Yesus tentang diri-Nya sebagai pokok Anggur yang baik dan kita (pengikut-Nya) adalah cabang-cabangnya (dalam Yoh 15:5). Jadi jika kita tinggal di dalam Kristus maka segala perasaan negatif seperti kebencian, rasa marah, geram dan kejahatan (Kol 3:8) akan sanggup kita tanggalkan. Hati kita akan dikuasai oleh semangat pengampunan, belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (Kol 3:12). Apakah harapanmu supaya Roh Kudus membebaskanmu dari kepahitan masa lalu sehingga memiliki semangat pengampunan, kasih seperti itu?

Pengolahan hidup dalam perspektif teologis, mengajak kita untuk bersedia merenungkan ajakan Yesus sebagaimana termuat di dalam Yohanes 11: 43-44: “Lazarus keluarlah…..”.
a. Gantilah nama Lazarus dengan namamu sendiri!
b. Apakah yang diminta oleh Yesus “keluar” dari hidupmu?
c. Bagaimana tanggapanmu terhadap ajakan Yesus itu? Silahkan diungkapkanlah dalam bentuk doa.

Belajar dari Joyce Meyer

Berkat bimbingan suaminya, Dave Meyer, Jocye dapat memahami jika Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan supaya mengalami kebahagiaan. Pengalaman penderitaannya di masa lalu (yang tidak mengalami cinta dari kedua orang tuanya juga suami pertamanya) ia serahkan kepada Allah. Ia pun dapat merasakan kasih Allah (yang ia rasakan melalui kehadiran suaminya Dave Meyer), akibatnya ia mengalami kekuatan sabda seperti yang termuat di dalam 1 Yohanes 4:18-20:
”di dalam kasih, tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Jikalau seorang berkata ia mengasihi Allah tetapi ia membenci saudaranya maka ia adalah pendusta. Karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya”.
Berbekal sabda itu maka: (1) ia dapat mengampuni kesalahan ayah dan ibunya di masa lalu, dan (2) ia mengalami pembebasan dari lilitan perasaan/emosi negatif dan berganti menjadi emosi positif dengan meraasa berharga, pantas dicintai dan mencintai, percaya diri, dll

Kepustakaan

Joyce Meyer, 2003. “Behavior Addictions Caused by Abuse” dlm: Beauty For Ashes: Receiving Emotional Healing, New York: Warner Faith, p.25-35.

Kitab Suci

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: