Yayuk Kristina dan Veronika Desi

April 25, 2009

Pertanyaan:
a. Deskripsikan klien yang hendak kalian layani
b. Uraikan landasan psikologis tentang pentingnya memaknai hidup.
c. Jelaskan mengapa teori tersebut (a) kamu rasa cocok untuk klien.
d. Apakah landasan teologis yang dapat kalian gunakan untuk membantu klien-mu memaknai pengalaman penderitaannya?

One Response to “Yayuk Kristina dan Veronika Desi”

  1. Veronika Desi D.S dan Yayuk Kristina said

    a. Deskripsi klien : seorang bapak bernama Sardi berumur 70 tahun. Sudah 2 bulan terakhir ini menderita penyakit komplikasi. kondisi terakhir dia sudah tidak mampu beraktivitas secara normal, misalnya berjalan dan makan ( harus dibantu/ditolong oleh orang lain). Kendala yang ditemui sekarang bahwa, dia terkadang memilih untuk tidak menerima bantuan dari orang lain, walaupun kenyataan yang ada bahwa untuk beraktivitas, dia harus tetap dibantu oleh orang lain. Dugaan yang muncul bahwa dia tidak ingin merasa dikasihani oleh orang lain atau dia tidak ingin merepotkan keluarga lain. Jadi kesimpulan awal bahwa dalam dirinya belum ada sebuah penerimaan diri tentang keadaan dia sekarang yang pada dasarnya memang membutuhkan orang lain. dia masih memahami bentuk bantuan orang lain sebagai wujud rasa kasihan, tetapi jika dilihat dari pandangan lain bahwa bantuan dari keluarga sebagai wujud kasih bukan rasa kasihan.
    b. Landasan psikologis mengenai kasus ini saya ambil dari teori Maslow mengenai kepribadian yang teraktualisasi. Maslow mengemukakan bahwa salah satu ciri orang yang teraktualisasi adalah adanya penerimaan umum atas kodrat, orang lain dan diri sendiri.
    Selain itu,mengutip ungkapan Gede Parma bahwa “terlalu sulit menemukan kehidupan manusia yang kuat dan kokoh tanpa pernah melewati gunungan kesedihan, sebaliknya…hampir semua kehidupan yang kuat dan kokoh dibuat kuat dan kokoh oleh tumpukan kesedihan”. Secara garis besar mau membicarakan tentang bagaimana kita masih dapat memaknai hidup lewat berbagai peristiwa baik itu suka maupun duka.
    c. Teori tersebut dirasakan cocok bagi klien karena nantinya klien akan dibantu untuk mampu mengaktualisasikan dirinya menjadi pribadi yang dapat memaknai keadaanya dengan pandangan yang positif. Klien yang menderita sakit merasa kehilangan kebermaknaan hidup karena tidak mampu menerima keadaannya yang tidak mampu lagi beraktivitas layaknya orang lain.
    seseorang dapat menjadi bahagia ketika dia dapat menerima suatu peristiwa sebagai suatu kesempatan baginya untuk belajar, setidaknya kesedihan, rasa sakit dan terluka dapat mengajari kita bagaimana bersyukur dan bagaimana menjad semakin kuat.
    d. Landasan teologis : Mazmur 40 :2-3 ” aku sangat menanti-nantikan Tuhan; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpu rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menentapkan langkahku”. Ayat ini kiranya menjadi suatu pengharapan bagi klien, bahwa Tuhan tidak pernah “diam ” terhadap penderitaan umat-NYA. Bahwa DIA akan meberikan pertolongan-pertolongannya, yang terkadang tidak pernah kita sadari bentuknya. Berharap klien dapat menemukan bahwa keluarga klien atau orang-orang terdekat klien adalah pribadi-pribadi yang ditempatkan ALLAH sebagai penolong baginya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: