Petry

April 25, 2009

Pertanyaan:
a. Deskripsikan klien yang hendak kamu layani
b. Uraikan landasan psikologis tentang pentingnya memaknai hidup.
c. Jelaskan mengapa teori tersebut (a) kamu rasa cocok untuk klien-mu.
d. Apakah landasan teologis yang dapat kamu gunakan untuk membantu klien-mu memaknai pengalaman penderitaannya?

One Response to “Petry”

  1. Petry said

    a. Deskripsi Klien : Klien adalah ibu Martha berusia 52 tahun dan bekerja sebagai tenaga bantu di salah satu yayasan dan mengabiskan sisa waktu yang ada dengan membantu di salah satu gereja di Jakarta. Ia mempunyai dua orang putra, yang pertama bernama Arnold berusia 28 tahun dan yang kedua bernama Steven berusia 26 tahun. Suaminya meninggalkannya ketika ia mengandung anak keduanya. Awalnya klien tinggal di Kupang namun karena ia harus mencari nafkah untuk kedua anaknya maka ia memutuskan untuk mengikuti kakaknya pindah ke Jakarta. Ia sempat bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta namun karena krisis moneter melanda tahun 1998, ia terpaksa berhenti bekerja karena perusahaan tersebut dinyatakan bangkrut. Setelah menyelesaikan SMU, anaknya yang pertama disekolahkan di salah satu sekolah Alkitab di Bali namun karena anaknya tidak menyukainya, akhirnya ia memutuskan meninggalkan Bali dan kembali ke Jakarta. Anak ini semasa sekolahnya tergolong anak pandai, sangat menguasai bahasa Inggris tanpa harus mengikuti kursus bahasa Inggris. Ia juga sangat menyukai bercocok tanam. Dia aktif dalam beberapa kegiatan pemuda. Di Jakarta, ia tidak melanjutkan sekolahnya karena melihat ibunya yang sendiri menafkahi keluarga. Ia akhirnya memutuskan untuk bekerja. Setelah mencari beberapa pekerjaan, ia berhasil diterima di sebuah perusahaan asuransi. Setelah bekerja hampir 2 tahun, ia memilih keluar dari perusahaan tersebut karena ada sesuatu hal yang tidak sejalan dengannya. Ia pun memutuskan ke Yogyakarta karena kebetulan di Yogyakarta ada saudaranya. Sejak saat itu, tahun 2001, ia tidak bertemu lagi dengan ibu dan adiknya. Komunikasi mereka terputus karena ia tidak pernah memberi kabar ke ibu ataupun adiknya. Pada tahun 2003, ia sempat mengunjungi ibu dan adiknya. Itupun hanya sebentar saja. Setelah itu, ia kembali lagi ke Yogyakarta. Hidup ibu Martha sedikit lebih baik setelah anak keduanya bekerja. Walaupun hidup mereka sudah lebih baik, mereka terus mencari anak pertamanya. Setelah 5 tahun tidak bertemu, akhirnya ibu Martha dan Steven bertemu juga dengan Arnold namun dengan suasana yang berbeda, yang penuh dengan derai tangis dan air mata. Arnold yang mereka cari, sudah terbujur kaku bahkan nyaris tidak dikenali lagi karena tubuhnya sudah rusak. Ibu Martha harus menerima kenyataan bahwa Arnold telah meninggal dunia dengan cara yang begitu tragis, digilas kereta api pada 11 Juni 2008 di rel Janti. Jenazahnya dibawa ke RS. Sardjito Yogyakarta. Dua minggu setelah kematian tragis itu, barulah jenazahnya diketahui. Itupun karena salah satu kerabat mereka mencari ingin bertemu. Namun ketika kerabat tersebut mencari Arnold di kostnya, tetangga dan beberapa kenalan Arnold mengatakan bahwa kemungkinan yang mengalami tabrakan maut di rel Janti adalah Arnold karena pakaian yang terakhir dipakainya dapat dikenali mereka. Maka kerabat ibu Martha ini, mencari informasi ke semua media massa yang meliput kejadian tersebut dan ke RS. Sardjito. Ibu Martha sangat syok karena tidak menyangka anaknya akan mengalami kejadian seperti itu dan karena setelah 5 tahun tidak bertemu, ia harus bertemu anaknya untuk terakhir kali. Ia lebih sedih lagi karena tidak bisa melihat jenazah anaknya karena sudah tidak layak lagi untuk dilihat. Ia hanya bisa meratapi peti coklat yang berisi jenazah anaknya itu.

    b. Landasan Psikologis : Berdasarkan blog Artikel Psikologi “Mengatasi Duka”, Berduka sangat banyak ragamnya, tidak terbatas saat orang tersayang meninggal. Kehilangan sesuatu atau seorang yang sangat berharga dapat sangat menyakitkan, membawa kesedihan panjang, mengguncang keseimbangan. Sedih, marah, tak berdaya. Berduka adalah respons alamiah terhadap hilangnya seseorang atau sesuatu yang sangat penting bagi kita. Situasinya dapat beragam, mungkin putus hubungan cinta, bercerai, tidak bisa lagi bekerja karena sakit parah, ditinggal meninggal orang terdekat, lepas kontak dengan anak, keguguran, kehilangan rumah yang dibeli dengan susah payah, atau kehilangan pekerjaan.
    Kita berduka dengan cara berbeda-beda dan pemulihan berlangsung bertahap, tidak dapat dipaksakan segera. Ada yang sangat takut dengan emosi yang dirasakan sehingga mencoba menekan atau tidak mengakui, menyangka dengan cara itu periode berduka akan segera selesai. Ini kurang dianjurkan karena rasa sedih, marah, dan tak berdaya yang tak diakui justru dapat memunculkan kebingungan, kekosongan, dan rasa tak nyaman jangka panjang.

    c. Teori ini saya rasa cocok untuk klien karena dapat memberi pengertian bahwa hidup ini tidak selamanya bahagia tetapi ada juga kesedihan yang harus dihadapi. Ada waktu kita merasa senang, ada pula waktu kita menghadapi kedukaan. Masing-masing orang menghadapi kedukaan dengan cara yang berbeda-beda. Setiap orang tidak luput dari duka.

    d. Landasan Teologis : Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2 Kor 5:17). Artinya bahwa kejadian yang lama sudah berlalu, dan masa depan sudah menghampiri. Jadi, kita tidak perlu berlarut-larut dalam kesedihan karena masih ada masa depan yang sudah menanti kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: