Marsel

April 25, 2009

Pertanyaan:
a. Uraikan landasan psikologis tentang pentingnya memaknai hidup.
b. Jelaskan mengapa teori tersebut (a) kamu rasa cocok untuk klien-mu.
c. Apakah landasan teologis yang dapat kamu gunakan untuk membantu klien-mu memaknai pengalaman penderitaannya?

One Response to “Marsel”

  1. marsel said

    1. Landasan Psikologis
    a. Dalam buku Gede Prama dikatakan “terlalu sulit menemukan kehidupan manusia yang kuat dan kokoh tanpa pernah melewati gunungan kesedihan”. Kalimat diatas ini mengatakan bahwa untuk menjadi seorang pribadi yang kuat dan kokoh dalam menjalani hidup, seseorang harus melewati berbagai rintangan dan hambatan agar ia mampu mengoptimalkan seluruh potensi dirinya dan menjadi manusia yang benar-benar kuat dan teruji.
    b. Landasan psikologis diatas saya anggap cocok digunakan dalam mendampingi klien saya. Klien saya secara psikologis mengalami keadaan tertekan, putus asa, dan tidak berdaya atas kejadian yang dialaminya yaitu ditinggal mati ayahnya, karena kejadian yang menimpanya sungguh terjadi diluar kendalinya. Maka untuk membantu klien saya keluar dari masalahnya terlebih dahulu harus mengubah sudut pandangnya terhadap masalah yang dialaminya. Ia harus bisa memandang pengalaman pahit hidupnya adalah sesuatu yang bisa menguatkan dirinya. Agar dia bisa menjadi pribadi yang kuat dan kokoh harus terlebih dahulu mengalami penderitaan. Ia harus bisa memanfaatkan penderitaan yang dialaminya sebagai pondasi bangunan hidupnya yang kelak akan berdiri kokoh. Pemaknaan yang tepat tentang penderitaan hidupnya akan menjadikan dirinya sebagai pribadi yang baru yang bisa berterima kasih pada penderitaan hidup dan mampu bersyukur atas rahmat hidupnya.
    2. Landasan Teologis
    Landasn teologis saya ambil dari Injil Yohanes (11: 25-26) yaitu: “Akulah kebangkitan dan hidup; barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan percaya kepada-Ku tidak akan mati selama-lamanya”. Dan Yohanes (16: 28) yaitu: “Aku datang dari Bapa dan Aku datang kedalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa”.
    Saya memilih ayat-ayat diatas sebagai landasan teologis dalam mendampingi klien saya karena, dalam ayat-ayat tersebut dapat dimaknai bahwa, jika kita percaya kepada Yesus Kristus dan hidup meneladani sosok- Nya serta menyerahkan sepenuhnya hidup kita kepada- Nya, maka kita telah menemukan jalan kepada Bapa. Selain itu dikatakan juga bahwa semua manusia datang dari pada Bapa kedunia dan akan kembali kepada-Nya. Dalam hal ini, klien saya belum bisa merelakan kepergian ayahnya, dan masih memandang kehidupan secara duniawi serta menganggap kematian ayahnya sebagai suatu kehilangan terbesar dalam hidupnya.
    Maka lewat ayat-ayat diatas, saya ingin mengajak klien saya untuk memaknai kehidupan kekal. Diharapkan dengan menggunakan ayat-ayat diatas dalam mendampingi klien saya, klien saya mendapatkan suatu pencerahan baru bahwa kepergian ayahnya bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebagai awal kehidupan kekal bagi ayahnya bersama Bapa di surga.
    Dengan kesadaran yang baru diharapkan klien saya dapat merelakan kepergian ayahnya dan dapat memulai hidup yang baru yang penuh semangat dan menyandarkan hidupnya pada kekuatan Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: