Hendra

April 25, 2009

Kebutuhan yang penting dari klien yang saya layani adalah menerima kenyataan hidup, bahwa ayah/suami telah meninggal untuk selama-lamanya. Untuk membantu klien, saya menemukan sebuah sebuah ungkapan atau teori yang menarik dari buku Emotional Learning tulisan dari OSHO (Bhagwan Shree Rajneesh). Ia mengatakan begini : “jika seseorang menerima realitas sebagaimana adanya; dalam sikap menerima ini, seluruh ketegangan akan lenyap. Penderitaan fisik dan mental, kecemasan, keputus asaan semuanya akan menghilang. Ketika tidak ada kecemasan, tidak ada tegangan, tidak ada fragmentasi, tidak ada divisi, tidak ada skizofrenia; maka tiba-tiba saja terdapat cinta, tiba-tiba saja terdapat welas asih. Tidak ada ideal-ideal, karena ideal-ideal berfungsi sebagai penghalang. Semakin idealis seseorang, semakin terhalang dia”. Ungkapan ini mau mengatakan bahwa menerima realitas membuat ketegangan menghilang. Hiduplah sesuai dengan realitas, dan bukan dengan ideal-ideal kita. Klien perlu dibantu untuk hidup kembali sesuai dengan realitas dan menerima realitas itu. Tidak menerima kenyataan atau hidup bahwa suami/bapak telah meninggal adalah penghalang untuk memulai kembali kehidupan.

Pertanyaan:
a. Mengapa uraianmu di atas menurutmu cocok untuk ditawarkan kepada klien supaya ia dapat memaknai pengalaman penderitaannya? jelaskan.
b. Pandangan teologis apakah yang hendak ditawarkan kepada klien supaya ia dapat semakin memaknai hidupnya dalam kondisi seperti itu?

2 Responses to “Hendra”

  1. hendra said

    a. a.Saya berpikir bahwa uraian dari OSHO tersebut tepat untuk ditawarkan kepada klien saya yang tidak dapat menerima fakta bahwa ayahnya telah mati. Karena itu OSHO menulis bahwa dengan sikap menerima seluruh ketegangan akan lenyap, dan tiba-tiba saja terdapat cinta. Cinta yang dimaksud OSHO saya terjemahkan sebagai cinta pada kehidupan. Saya melihat bahwa ketidak mampuan klien menerima realita bahwa ayahnya telah tiada membuatnya seperti hilang harapan serta hilang gairah untuk hidup. Jika demikian yang terjadi, maka bisa dikatakan bahwa klien tidak mencintai hidupnya sendiri. Dengan sikap menerima realitas, bahwa ayahnya telah mati, dapat menghantarnya pada cinta akan hidupnya sendiri dan menjalani hidupnya seperti sedia kala.

  2. hendra said

    b. pandangan teologis yang ditawarkan saya ambil dari ayat-ayat Al-Quran, yaitu “Janganlah kamu merasa lemah dan berdukacita, padahal kamu adalah orang yang berderajat paling tinggi, jika kamu benar-benar beriman”( Al-Imran:139 ) dan “Dan barang siapa taqwa kepada Allah (berproses dengan cara yang ditawarkan oleh Al-Qur’an). Allah akan menjadikan baginya Jalan Keluar (sintesa dari kedua kebenaran yang bertentangan) dan diberi rizki dari arah yang tak dapat diduga” ( Ath-Thalaq:2-3)
    Ayat dalam surat Ali-Imran, saya tawarkan sebagai bantuan agar klien tidak terus menerus merasa bersedih dan lemah menghadapi kematian ayah. sedangkan ayat dalam surat At-Thalaq saya tawarkan untuk membantu klien mulai melihat dengan cara pandang baru bahwa setiap kesedihan dan penderitaan selalu ada jalan keluarnya, asal kita tetap taqwa dan beriman padanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: