Anna

April 25, 2009

Saya membaca buku karangan Tony Evans yang berjudul ”Tuhan (tidak) Beserta Kita (?)”. Buku ini menceritakan bahwa Tuhan memberikan pencobaan kepada kita dengan tujuan tertentu. Tuhan menginginkan agar kita menjadi dewasa, bukan hanya berpikir dan bertindak tetapi juga secara iman. Saat Tuhan memberikan ujian atau cobaan kepada kita, itu merupakan kesempatan bagi kita untuk mempelajari hal baru sehingga kita dapat lebih mendalami iman kita. Buku ini juga mengatakan bahwa Tuhan tidak akan melupakan dan meninggalkan umat-Nya sendiri untuk menghadapi pencobaan, karena pencobaan yang diberikan kepada kita merupakan rancangan-Nya untuk hidup kita agar lebih berserah diri kepada Tuhan.

Pertanyaan:

a. Mengapa gagasan tersebut kamu rasa cocok untuk dijadikan inspirasi teologis dalam membimbing klienmu?
b. Apakah landasan psikologis yang dapat kamu gunakan untuk membantu klien semakin memaknai pengalaman penderitaannya?

One Response to “Anna”

  1. anna said

    a. Gagasan tersebut cocok karena saya melihat klien saya masih belum bisa menerima kematian ayahnya dan situasi keluarga yang dia alami setelah ayahnya meninggal. Klien saya masih sering bertanya “Mengapa harus aku yang mengalaminya ?, Mengapa ayah saya meninggal secepat ini?”, itu bukti bahwa klien belum siap menerima secara psikologis kematian ayahnya. Dalam buku tersebut ” Tuhan (tidak) Beserta Kita (?)”, pencobaan diberikan kepada manusia agar manusia menjadi dewasa. Dalam hal ini, klien diharapkan dapat mengambil hikmah dari pencobaan yang dialaminya sehingga dapat menjadikannya pribadi yang dewasa. Hal ini sesuai dengan Yakobus 1:3-4. Selain itu, klien diharapkan dapat selalu bersandar pada Tuhan karena dalam keadaan sesulit apapun Tuhan selalu menyertainya dan membantunya memecahkan persoalannya. Tuhan tidak akan memberikan pencobaan melebihi kemampuan kita. Tuhan selalu mendampinginya dan menemaninya selalu. (1 Korintus 10:13)

    b. Landasan psikologis yang digunakan saya ambil dari buku Gede Prama yang berjudul “Kesedihan, Kebahagian, Keheningan”. dalam buku tersebut ada kalimat mutiara di halaman 22 yang berbunyi “Hidup mirip dengan sekolah. Ketika badai datang, itu tandanya sedang ulangan umum. Begitu selesai, kita naik kelas.” Kalimat tersebut dapat dijadikan pegangan bagi klien untuk memaknai pengalaman penderitaannya. Saat ini klien sedang menjalani “Ulangan Umum” dan ini menuntut klien untuk dapat menyelesaikan “Ulangan Umumnya” dengan baik sehingga dia bisa “Naik Kelas” Ulangan umum disini dapat diartikan sebagai pencobaan yang baru dijalani klien, sedangkan naik kelas dapat berarti klien mampu menjalani pencobaannya dan melewatinya sehingga dia mampu bangkit dan berdiri dari keterpurukan akibat pencobaan yang dialaminya. Kalimat tersebut diharapkan dapat memotivasi klien agar dapat selalu “Tegak Berdiri” dalam menjalani hidupnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: