MENGAPA TAKUT MENDENGAR KATA “KEMATIAN” ?

April 2, 2009

Salah satu tujuan kuliah konseling pastoral 2 adalah membantu mahasiswa supaya dapat memberikan pastoral care kepada orang sakit atau menjelang kematian. Sebelum mereka melakukan aktivitas itu, para mahasiswa mengungkapkan pendapat dan perasaannya seputar kata kematian. Adapun hasilnya adalah uraian berikut ini:

Kematian adalah akhir dari hidup setiap manusia. Ia datang seperti misteri karena saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri saya setelah mati. Itu sebabnya saya merasa takut jika mengalami kematian (Marsel, Sanitoh, Satrio). Saya takut mendengar kata kematian sebab memang belum siap untuk mati. Saya membayangkan diri saya berjalan sendirian di suatu padang pasir tanpa ada satu manusia lain pun di sana.

Situasi dunia kematian itu juga tak dapat digambarkan/dibayangkan: apa yang akan terjadi dengan jiwa saya ini setelah kematian? Semua fakta itu menumbuhkan perasaan ngeri (Edisman, Noviyanti, Anna Miranti) juga bimbang karena saya sebagai manusia tidak pernah tahu tentang kapan harus mati sebab ia datang secara tiba-tiba tanpa dapat diduga (Sendi). Oleh karena saya tidak berdaya menghadapi kematian, maka saya harus dapat mempersiapkan diri menghadapi pengalaman yang tak dapat dihindarkan/ditolak itu (Frediyanto, Sisilia).

Kata ”kematian” mengerikan bagi hidup saya sebab semua fungsi tubuh akan menjadi berhenti, bahkan saya pun pasti akan kehilangan semua hal yang ada dalam diri ini (kesadaran, harapan, cita-cita) dan saya pun harus meninggalkan semua orang yang saya cintai (keluarga serta teman yang biasanya berada dekat dengan saya). Di dalam tanah yang tertutup batu nisan, saya memasuki dunia yang tertutup rapat, dingin, gelap, kosong, hampa, sepi, sendiri dan cacing-cacing tanah akan memakan habis seluruh tubuh saya itu. Gambaran tersebut sangatlah menyeramkan, maka untuk membayangkannya pun saya tak akan pernah merasa siap. Padahal semua kehidupan manusia akan berakhir dengan kematian supaya ia dapat kembali kepada Sang Penciptanya. Dan realita ini sangatlah tidak menyenangkan (Putri, Angelia Lukita, Farida, Hanna, Maya, Lucia, Antonia Dian, Rose Endah).

Mengapa tidak menyenangkan? Sebab jika saya mati, maka saya harus ”pergi” meninggalkan dunia tanpa sempat berpamitan dulu dengan orang-orang yang saya kasihi (Martina Rosa). Saya juga tidak dapat melakukan apa-apa lagi. Semua harapan dan cita-cita yang saya inginkan tidak dapat tercapai/hilang/sirna begitu saja. Dan yang menyedihkan lagi: jika seandainya di hari penghakiman terakhir nanti saya harus mempertanggungjawabkan dosa-dosa yang telah saya lakukan, saya yakin akan masuk neraka. Dan jika kematian datang menjemput saya sekarang ini pasti akan membuat saya merasa sedih karena harus meninggalkan orang-orang yang saya kasihi, terlebih-lebih keluarga saya. Padahal saya belum dapat membalas budi kedua orangtua saya. Akibat lainnya, saya pun tidak lagi memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan/dosa yang telah saya perbuat (Dessy Kristina, Wicha, Yayuk, Vidy). Atau jika kematian itu menjemput orang-orang yang saya kasihi (entah karena sakit atau kecelakaan), maka saya pasti sedih karena merasa kehilangan dia; lebih-lebih jika ia mati di pangkuan saya (Anisa, Petry, Erna).

Dengan demikian saya membayangkan kematian laksana kilatan petir yang dapat datang secara tak terduga, yang dapat menyambar/mendatangi diri saya sendiri maupun orang-orang yang saya sayangi secara tiba-tiba: kapan terjadinya?, tak ada seorangpun yang tahu! (Asteria, Beni, Noviyanti). Oleh karena itu selama masih dapat menikmati kehidupan, cintai dan rawatlah kehidupan ini; serta hiduplah berdampingan dengan orang lain sebaik mungkin (Agnes Lina). Dengan kata lain, kematian menyadarkan saya tentang pentingnya mengisi hidup sebaik-baiknya: membuat orang-orang yang berada di sekitar saya merasa bahagia sebelum kematian itu terjadi (Rini).

Kekuatan untuk menyandarkan diri supaya saya kuat menanggung kesedihan mendalam karena pengalaman ditinggal mati orang-orang yang saya kasihi adalah iman yang kuat kepada Kristus (Monica Weru). Juga pentingnya memelihara keyakinan: saya pasti akan dipertemukan lagi dengan orang-orang yang saya kasihi itu di kehidupan lain (Veronika Desi). Jika kesadaran ini yang ditanamkan di dalam sanubari, maka saya pasti tidak akan takut lagi mendengar kata kematian. Mengapa? Sebab saya yakin kematian justru menghantarkan saya untuk berjumpa dengan-Nya: dosa-dosa saya selama hidup pasti ditebusnya, kebaikan-kebaikan saya selama hidup akan diingat-Nya; maka saat saya mati Ia akan menuntun saya untuk hidup bersama-Nya sekaligus bersama orang-orang yang saya kasihi yang telah terlebih dahulu dipanggil oleh-Nya (Wahyu Evi Lestari).

Kesadaran tersebut semakin diperteguh setelah saya menyaksikan bersama film “The End of Life” waktu kuliah konseling pastoral 2. Film itu menjelaskan secara gamblang dan ilmiah tentang kenyataan berikut: ”Hidup adalah suatu rentang waktu dari lahir sampai mati. Setiap manusia yang pernah lahir, pasti akan mati” (Marselus).
Film itu menyadarkan siapa pun juga untuk memahami bahwa kematian adalah akhir kehidupan manusia yang ditandai dengan (a) berhentinya/tidak berfungsinya seluruh organ-organ vital juga sel-sel tubuh manusia, serta (b) hilangnya seluruh emosi, identitas diri dan kepribadian manusia (Anna Miranti). Akan tetapi semua kenyataan tersebut bukanlah suatu hal yang harus ditakuti sebab ternyata justru dapat merupakan titik awal bagi manusia menuju kebahagiaan/kedamaian abadi. Seseorang yang memasuki alam kematian ternyata bukan memasuki ruang penuh kegelapan melainkan berjalan melalui lorong yang menghantarkannya menuju ke suatu titik yang terang-benderang (Lucia Nurcahyaningsih). Dan pada waktu seseorang mati, tubuhnya saja yang hancur sedangkan roh dan jiwa tetap hidup; bandingkan dengan kisah dalam film tadi: abu jenazah Herbie yang ditaburkan di halaman rumah, menandakan spirit/roh Herbie tetap berada di sekitar rumah itu (Martina Rosa). Bagi seseorang yang menderita sakit maka kematian dapat menjadi sarana pembebasan dirinya dari rasa sakit, takut, depresi; sebagai gantinya ia pasti mengalami kedamaian karena kembali kepada Sang Pemberi Hidup (Frediyanto).

Jadi kematian adalah proses alamiah dari kehidupan manusia. Seperti halnya kehidupan merupakan peristiwa yang alamiah, begitu juga dengan kematian: kematian merupakan hal yang pasti ”mendatangi” manusia, yang akan menjaga keharmonisan kehidupan sebab tanpa adanya kematian kehidupan akan mengalami kekacauan (Beni). Oleh karena itu tak ada alasan bagi siapapun juga untuk memelihara rasa takut jika mendengar kata ”kematian”!.

One Response to “MENGAPA TAKUT MENDENGAR KATA “KEMATIAN” ?”

  1. asep said

    siap gk siap, kalau waktunya datang kita harus siap…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: