PERGULATAN PSIKOLOGIS DAN TEOLOGIS KLIEN MENJELANG KEMATIAN

December 2, 2006

Klien yang mengalamis sakit berat dan menjelang kematian, mengalami pergulatan psikologis maupun teologis sebagai berikut:

Pergulatan psikologis:
Elisabeth Kubler-Ross (1998: 49-163) berhasil mengobservasi pasien-pasien yang tak tersembuhkan (terminally ill) dan menjelang kematian (dying). Dari hasil observasi tersebut, ia mengungkapkan pergulatan psikologis mereka dalam lima tahap yaitu:

1.Tahap pertama: Penyangkalan:
Shock atau keterkejutan merupakan reaksi pertama bagi pasien yang menyadari bahwa penyakitnya akan membawa ke arah kematian. Ia cenderung menyangkal, “Tidak, bukan saya; tidak mungkin saya mengalami semua ini”. Penyangkalan yang penuh kegelisahan ini hampir menyelimuti semua pasien yang mendapat vonis dokter, khususnya yang diberitau secara mendadak tentang keadaan sakitnya. Pada kesempatan tertentu pasien dapat mempertimbangkan kematiannya dengan nalar tetapi pada kesempatan lain ia menyingkirkan pertimbangan itu dan menggantikannnya dengan perjuangan untuk mempertahankan hidupnya. Penyangkalan berfungsi sebagai penangkal sementara setelah menerima berita yang tidak terduga dan sangat mengejutkannya. Ketika pasien dapat mempertimbangkan kematiannya dengan nalar maka ia dapat berbicara dengan seseorang tentang kematiannya. Tetapi dialog tentang kematiannya hanya dapat dilaksanakan atas inisiatif pasien sendiri sesuai dengan suasana hatinya. Pembicaraan perlu diakhiri bila pasien tidak dapat menerima kenyataan dan kembali pada sikap penyangkalan semula.

2.Tahap kedua: Marah.
Apabila penyangkalan pada tahap pertama tidak dapat dipertahankan, biasanya digantikan dengan perasaan marah, gusar, cemburu dan benci. Pertanyaan yang sering muncul adalah, “Mengapa aku?”. Tahap marah ini sulit diatasi dari sisi pandang keluarga dan staf rumah sakit karena kemarahan ditujukan kepada keluarga, tenaga medis dan lingkungan sekitarnya. Ia menganggap dokter, perawat, keluarga dan lingkungan tidak benar, tidak becus bahkan bodoh. Selain itu pasien juga sering mengungkapkan banyak keluhan. Apapun yang dilihat pasien, menimbulkan keluhan.

3.Tahap ketiga: Tawar-menawar
Ketika pasien mulai menyadari bahwa ia tidak dapat menghadapi kenyataan yang menyedihkan dengan memarahi orang lain dan memberontak kepada Tuhan, ia kemudian mencoba menempuh jalan damai dengan melakukan tawar-menawar dengan Tuhan. Tawar menawar merupakan usaha untuk menunda kematian. Dalam tawar-menawar itu pasien menjanjikan imbalan “hidup dengan baik” bahkan memberi waktu bagi dirinya agar Tuhan menunda kematiannya, “Bila aku melakukan hal-hal baik mungkin Tuhan akan menerima penawaranku”. Ada pasien yang menjanjikan “hidup yang diabdikan kepada Tuhan” atau “hidup bagi pelayanan gereja” bila diberi umur lebih panjang. Atau ada pasien yang berjanji memberikan bagian tubuhnya bagi ilmu pengetahuan (bila dokter mau menggunkan ilmu pengetahuan untuk memperpanjang hidupnya). Tawar-menawar biasanya dilakukan secara rahasia dengan Tuhan. Secara psikologis, janji-janji itu dikaitkan dengan perasaan bersalah. Kalau ada pasien yang menghubungkan janji-janjinya kepada Tuhan dengan perasaan bersalah maka pasien harus segera ditolong supaya terlepas dari ketakutannya akan hukuman karena kesalahannya itu.

4.Tahap keempat: Depresi
Bila pasien tidak dapat lagi mengatasi sakitnya, bahkan ketika ia harus menjalani berbagai pembedahan atau perwatan intensif maka mulai muncul gejala-gejala depersi, antar lain: kurus, lemah, malas/tidak mau tersenyum lagi. Muncullah suatu perasaan “kehilangan”. Perasaan kehilangan mungkin berhubungan langsung dengan penyakitnya. Misalnya, seorang wanita yang dioperasi payudaranya merasa kehilangan keindahannya atau kalau diangkat rahimnya merasa kehilangan kewanitaannya sebab merasa tidak menjadi wanita utuh lagi. Mungkin pula perasaan kehilangan berhubungan dengan akibat sakitnya: kehilangan kekayaannya sebab biaya rumah sakit yang besar; kehilangan pekerjaan; kehilangan daya tariknya. Bahkan yang paling menyedihkannya ialah ia harus bersiap-siap untuk berpisah dengan dunia untuk selamanya: dengan orang-orang yang dicintainya, dengan peran yang dilakoninya dalam hidupnya. Saat menyadari bahwa ia kehilangan segala-galanya, ia mengalami depresi.

5.Tahap kelima: Menerima/pasrah
Bila pasien telah mempunyai cukup waktu (misalnya tidak menghadapi kematian mendadak) dan telah dibantu melewati tahap-tahap sebelumnya, maka ia akan sampai pada tahap dimana ia tidak marah akan nasibnya dan danggup mengatasi rasa depresinya. Ia mencoba menikmayi sisa-sisa hidupnya dengan merenungkan akhir hidupnya yang akan segera datang dengan tingkat pengharapan tertentu. Penerimaan ini tidak selalu berarti bahagia. Penerimaan ini lebih merupakan kehampaan perasaan. Ia merasa seoralh-olah sakitnya telah tiada, perjuangannya sudah selesai dan tiba saatnya untuk “beristirahat terakhir sebelum perjalanan panjang yang segera dimulai”. Pasien merasa capek dan lemah. Ia memerlukan tidur yang lebih sering dalam interval waktu yang berbeda dengan kebutuhan tidur selama depresi.

Pergulatan teologis:
Di samping pergulatan psikologis, seorang pasien tak tersembuhkan dan menjelang kematian juga mengalami pergulatan-pergulatan teologis, sebagai berikut:

1.Kematian dialami sebagai hukuman dari Tuhan:
Menurut St Alfonsus (2001:6) “Memang benar, pada saat seseorang menghadapi ajal, pikiran akan hukuman Allah menimbulkan ketakutan pada setiap orang”. Pergulatan yang dialami biasanya karena seseorang menyadari kematian sebagai bentuk hukuman dari Tuhan atas dosa-dosanya sebagai manusia, sebagaimana pernah diucapkan oleh nabi Yehezkiel, “Orang yang berbuat dosa itu harus mati” (Yehez 18:20). Pada kesempatan lain Yehezkiel juga berkata, “….orang-orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya..” (Yehez 33:8). Nabi Yeremia juga mengatakan bahwa kematian merupakan hukuman atau pembuangan. “Ia tidak akan kembali ke sini, ia akan mati di tempat pembuangan dan tidak lagi melihat negri ini” (Yer 22:11c).

2.Menghadapi sakit yang tak tersembuhkan, seseorang bertanya-tanya: Apakah Tuhan itu ada dan mencintaiku? Menurut Hogan (2002:10-11), pada saat seseorang menghadapi kematian ia mengalami pergulatan sebabagi berikut, “Apa yangs alah? Mengapa mesti saya? Saya tidak lebih berdosa kalau dibandingkan dengan orang lain. Mengapa terjadi pada saya? Bagaimana Allah dapat menjadi Allah yang baik tetapi membiarkan ini terjadi? Mengapa Allah tidak campur tangan untuk menghentikannya? Apakah Allah memang ada? “ Singkatnya, fakta penderitaan dan kematian justru dapat menimbulkan pemberontakan terhadap Allah.

3.Menghadapi pergulatan tentang nasib sesudah kematian:
Berhadapan dengan kematian seseorang dihadapakan pada pertanyaan, “Mungkinkah memasuki surga? Macam apakah gerangan surga itu?” . St Alfonsus membenarkan adanya pergulatan itu dan mencoba memberikan gambaran mengenai surga. Menurutnya (2001:60): dalam surga itu tidak ada penyakit atau kemalangan, tidak ada kemiskinan dan juga tidak ada frustrasi dan kekecewaan, peperangan, pengejaran, penghambatan, kecemburuan dan permusuhan. Yang ada adalah rahmat: berjumpa dengan Allah, memandang dari muka ke muka wajah Allah dan mencintai-Nya.

One Response to “PERGULATAN PSIKOLOGIS DAN TEOLOGIS KLIEN MENJELANG KEMATIAN”

  1. monica weru said

    nama : Ronald
    umur : 26 tahun
    jenis kelamin : laki-laki
    suku : sumba
    Agama: Kristen Protestan
    Kasus: kehilangan ayahnya

    Kebutuhan Utama :
    dapat menerima kenyataan bahwa orang yang dicintainya telah pergi untuk selamanya.

    Waktu tau bahwa ayahnya tidak lama lagi akan pergi karena penyakit komplikasi lambung yang dideritanya selama ia hidup. klien saya tidak siap untuk menerima keadaan tersebut dan dengan peristiwa meninggalnya ayah klien begitu sedih,dan itu tampak dari wajahnya dan nada bicaranya. klien begitu dekat dengan ayahnya. Sehingga ia mengalami tekanan yang berat dan rasa kehilangan yang mendalam.

    Bantuan yang saya berikan :
    a. See Healing
    klien menemui saya dan mencurahkan perasaan, keluhan-keluhan, dan kesedihan mengingat kepergian ayahnya. klien menceritakan sedetail-detailnya masalah yang ia hadapi waktu itu.

    b. Sustaining (penopangan)
    saya mendapingi klien untuk meringankan beban pikirannya dengan mengatakan bahwa orang-orang yang kita cintai itu pasti akan pergi. saya selalu menguatkan klien dengan pengalaman sakit saya sehingga pengalaman kehilangan orang yang dicintai itu bisa dilupakan walaupun itu sangat menyedihkan.

    Kemampuan mendegarkan yang perlu saya tingkatkan :
    yaitu saya menunjukkan minat untuk mendengarkan keluhan yang ia ceritakan supaya kita nampak antusias terhadap persoalan yang tengah diceriterakannya.kemudian memberi perhatian terhadap lawan bicara, tidak sibuk sendiri dengan membaca buku. Singkatnya menyingkirkan segenap gangguan yang kemungkinan ada. Memahami segenap gejolak perasaan yang dialami oleh lawan bicara. saya bersikap Empati pada klien untuk berada atau masuk dalam situasi/kondisi yang dialami klien. saya bersikap sabar, tenang sambil menganggukan-anggukkan kepala saat klien bercerita dan memberikan masukan/umpan balik.walaupun kejadiaan inimasih dirasakanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: