PASTORAL PENDAMPINGAN ORANG SAKIT MENUMBUHKAN PENGHARAPAN

February 22, 2009

Pengalaman penderitaan fisik (misalnya sakit berat) yang dialami seseorang kerap menjebaknya pada suatu situasi yang dapat dirumuskan sebagai pengalaman batas daya (Hogan, 2002:5). Dalam situasi tersebut, seseorang dengan hati pilu terdorong berseru seperti yang termuat dalam Mzm 13,1-4: “Berapa lama lagi Tuhan, Kau lupakan aku? Berapa lama lagi Kau sembunyikan wajah-Mu terhadapku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku dan bersedih hati sepanjang hari? Pandanglah kiranya dan jawablah aku ya Tuhan Allahku!”. Singkatnya, pada saat mengalami situasi batas daya, seseorang menghayati iman sebagai suatu teriakan kepada Allah supaya Ia berkenan berbelaskasihan kepadanya sebagai satu-satunya sumber kekuatan hidupnya (Diktat “Ber-Teologi Harapan sebagai Proyek”, 1994:12).

Pastoral pendampingan orang sakit merupakan salah satu bentuk layanan konseling pastoral untuk membantu klien yang tengah bergulat dengan pengalaman batas daya tersebut. Situasi batas daya yang kerap menatapkan klien pada fakta kematian (kegelapan maut): harus meninggalkan dunia dan tidak tahu akan menuju kemana. Dalam proses pendampingan, konselor menunjukkan rasa simpati dan dukungan empatik kepada klien) supaya dapat “berjumpa” dengan Allah yang hadir dalam situasinya serba terbatas itu. Klien dibimbing untuk hidup dengan bersandar pada kebaikan Allah semata, sehingga daya ilahi Roh Kudus dapat dijadikan sumber kekuatannya untuk “meloncat” ke luar dari situasi pengalaman batas daya menuju kepada Allah (meskipun dalam kegelapan), karena percaya bahwa penyerahannya itu akan disambut Allah. Inilah yang disebut dengan pengharapan: dinamika yang menggerakkan hidup dengan daya dari Allah (=Roh Kudus), sehingga klien sanggup “keluar” dari “dirinya” sendiri atau pasrah menuju ke haribaan Allah.

Kuliah konseling pastoral, membantu mahasiswa mengembangkan pribadinya ”menjadi manusia bagi orang lain dan bersama orang lain” (Man and Woman for Others). Hal ini sesuai dengan visi Ignatian berikut ini: mahasiswa bukan hanya dibantu menjadi pandai dalam bidang pengetahuan saja, tetapi juga untuk berkembang menjadi manusia bagi sesama, yang peka terhadap kebutuhan orang lain, yang mau hidup bersama orang lain dalam kebersamaan menuju kesempurnaan dan yang mau membantu orang lain…” (Universitas Sanata Dharma, 2002: 7). Jati diri mahasiswa sebagai konselor diharapkan terasah: untuk membawa kegembiraan bagi klien yang tengah mengalami kesedihan; pembawa terang bagi klien yang bergulat dengan pengalaman ketakutan/kecemasannya; singkatnya, menawarkan pengharapan tentang hakekat Allah yang maha baik kepada klien yang berjuang untuk “menerima” penderitaan sakitnya.

About these ads

6 Responses to “PASTORAL PENDAMPINGAN ORANG SAKIT MENUMBUHKAN PENGHARAPAN”

  1. Sakit adalah proses dimana fungsi individu dalam satu atau lebih dimensi yang ada mengalami perubahan atau penurunan bila dibandingkan dengan kondisi individu sebelumnya.

    Sakit adalah dimana fisik, emosional, intelektual, sosial, perkembangan, atau seseorang berkurang atau terganggu, bukan hanya keadaan terjadinya proses penyakit.

    Kematian adalah akhir dari kehidupan, ketiadaan nyawa dalam organisme biologis dan sesuatu yang sulit dipahami, sekaligus begitu lazim terjadi. Kematian merupakan akhir dari tahap kehidupan manusia.

  2. 1. Iman dapat dimengerti sebagai suatu anugerah yang membuat kita mampu menunda evaluasi negatif atas hidup semacam itu, mampu menyejukkan jiwa kita yang kalut oleh hasrat pemberontakan sehingga kita sanggup mempertahankan intuisi dasar kita bahwa kendati segala duka dan derita, Allah tetap menghasrati dan mengupayakan kebaikan yang paling penuh (ultimate good) bagi kita. Pengertian Iman dari kisah tersebut adalah kekuatan yang dapat melawan segala ketakutan yang dapat menolong kita dari segala derita. Iman dapat membantu kita kembali kepada Tuhan yang telah memberikan hidup kepada kita dan mengingatkan kita jika kita sedang dihadapkan pada suatu keadaan yang membawa kita untuk kembali kepada Tuhan.

  3. 2. Arti doa menurut kisah tersebut adalah suatu permohonan dimana kita masih percaya kepada Tuhan dimana ia tidak akan meninggalkan kita dan memberikan jalan yang terbaik bagi kita sesuai kehendakNya.

  4. 2. Hidup doa dalam pendampingan orang sakit dapat membantu klien agar semakin dapat mendekatkan diri kepada Tuhan dimana kita diminta dikuatkan agar mampu menghadapi situasi yang kita hadapi sehingga dapat memberikan semangat hidup dan semakin lebih mencintai diri kita sendiri.

  5. 3. Hidup doa dalam pendampingan orang sakit dapat membantu klien agar semakin dapat mendekatkan diri kepada Tuhan dimana kita diminta dikuatkan agar mampu menghadapi situasi yang kita hadapi sehingga dapat memberikan semangat hidup dan semakin lebih mencintai diri kita sendiri.

  6. 4. Pengalaman hidup doa kami secara pribadi kami percaya bahwa tangan tuhan akan selalu bekerja untuk kami, apa yang sudah tuhan berikan kepada kami menjadikan kami lebih kuat dalam menjalani hidup, dan kami percaya bahwa tuhan tidak akan pernah meninggalkan kami dalam kedaan apapun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: